Selasa, 25 Mei 2010

BERBIJAKLAH, SAAT ANAK LEBIH MENCINTAI OLAHRAGA, "BKW", Edisi Februari 2010


OLEH : AJENG KANIA

Banyak orang tua melarang anaknya menjadi atlet – olahragawan – karena profesi itu tidak menjanjikan hari depan (promise of job). Apakah masih relevankah di saat ini?

Orang tua pasti ngomel manakala anaknya lebih menyenangi kegiatan olahraga ketimbang les matematika? Setiap pagi mengambil sepatu kats, pergi jogging, sore hari balepotan lumpur habis sepakbola. ”Kalau sepakbola terus kapan kamu jadi pinter? Sepakbola bisa memberimu makan?” hardik sang ayah.

memberi ruang beraktualisasi
Paradigma sang ayah di era kecerdasan berganda (multiple-intelligences) ini seharusnya lebih bijak. Pakar kecerdasan berganda Howard Gardner termasuk salah satu ahli yang menolak bahwa kecedasan monolitik (IQ) digunakan sebagai satu-satunya parameter untuk menentukan seseorang cerdas atau tidak. Menurutnya, setidaknya ada tujuh kecerdasan – matematik-logika, linguistik, musik, kinestetik, spasial, dsb - yang dapat membuat seseorang sukses di kemudian hari. Boleh jadi sang anak dalam akademik kurang baik, namun ia memiliki bakat dan talenta di bidang lain untuk berkembang dan berhasil.

Melalui latihan panjang dan kerja keras, bakat alamiah dapat melahirkan sosok sukses dan eksis di bidangnya. Seorang politikus memiliki kecerdasan verbal memukau menjadi orator, namun belum tentu cerdas dalam hitung-berhitung. Seorang sastrawan boleh jadi pandai menyulap kata-kata menjadi kocak, puitis, menusuk atau menggelitik pembaca, namun belum tentu piawai dalam olah musik. Begitu pun anak lebih menyukai olahraga, dibutuhkan motivasi dan bimbingan serta dukungan lingkungan terdekatnya sehingga hobinya berkembang optimal.

Faktor lain adalah ruang beraktualisasi bagi anak. Ketika anak menyenangi olahraga bulutangkis harus ada ruang berlatih. Bisa aktif di unit ekstra-kurikuler atau ikut latihan dengan komunitas penggemar bulutangkis. Bagi orang tua yang mampu dapat mendaftarkan anaknya ke klub bulutangkis sehingga memungkinkan anak mendapat pembinaan dan latihan terprogram. Dengan memiliki program, jadwal latihan, jadwal kompetisi, atau seleksi dapat menjadi alat ukur prestasi sekaligus uji mental bertanding. Dengan jam terbang yang tinggi bukan mustahil bakal menjadi atlet besar.

penghargaan bagi atlet berprestasi
Akan tetapi, stereo negatif "habis manis sepah dibuang" mungkin masih membalut perasaan orang tua kita tentang masa depan seorang atlet. Seorang atlet dipuja ketika berjaya dan ditinggalkan saat prestasinya memudar. Fenomena tanpa kepastian ini berakibat terganggunya konsentrasi saat berlatih maupun bertanding. Pikirannya selalu bergelut urusan perut hari ini, keluarga, kontrakan atau masa depan. Kondisi ini sulit membebaskan dirinya untuk terjun full sebagai atlet sejati.

Itulah kegundahan Menegpora. Menurutnya kini saatnya prestasi atlet dihargai dan dijamin masa depannya. Bagaimana pun mereka telah berjasa mengangkat harkat dan martabat bangsa di panggung terhormat. Hal itu dibuktikan dengan kucuran bonus 1,5 M (satu setengah miliar rupiah) dari pemerintah diraih Markis Kido/Hendra Setiawan sebagai peraih emas Olimpiade Beijing 2008 lalu. Pasangan ganda putra ini pun mengoleksi sejumlah hadiah persembahan organisasi masyarakat, institusi, dan komunitas lainnya.

Taufik Hidayat pernah mencicipi bonus 1 Miliar rupiah saat meraih emas Olimpiade Athena/2004. Taufik telah merasakan manisnya seabreg penghargaan bonus uang, piala, rumah, kendaraan, dan materi lainnya. Penghargaan memadai di bidang olahraga juga dirasakan petinju Chisjon atau pelari Suryo Agung Wibowo. Setiap bertanding Chrisjon dihargai lebih dari 9 digit nilai rupiah. Begitu pun atlet-atlet Porda, PON, SEA Games, dsb selain memperoleh medali juga uang kadeudeuh dari pemerintah atau pemda-nya masing-masing.

Tak bisa dipungkiri, ketika banyak siswa/mahasiswa ketika lulus kuliah mendambakan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan kemampuan akademiknya mereka berjuang menyisihkan pelamar lainnya dalam ujian seleksi sangat ketat. Bagi atlet berprestasi, pemerintah memberi terobosan jalur khusus. Rencananya di tahun 2009 ini pemerintah bakal mengangkat 1000 (seribu) atlet berprestasi sebagai PNS. Mereka bakal ditempatkan sebagai instruktur/pelatih olahraga di berbagai instansi pemerintah di seluruh tanah air. Hemmh, cukup menarik bukan?

membawa harum bangsa
Kini olahraga bukan sekadar hiburan semata, tapi dapat dikemas menjadi tontonan komersial menguntungkan. Gelontoran materi bagi seorang atlet adalah hal lumrah. Layaknya artis, atlet menjadi selebritis buah bibir seantero penjuru negeri bahkan dunia.

Setiap kompetisi, kejuaraan atau perhelatan olahraga multi-even mampu menawarkan sejumlah materi, bonus, popularitas, dan lain-lain. Kondisi merangsang banyak negara antre menjadi tuan rumah, perusahaan berebut menjadi sponsor, perusahaan televisi termotivasi memegang hak siar, dan penonton rela berdesak-desakan membeli tiket.

Esensi kompetisi olahraga adalah mencari yang terbaik, tercepat, tertinggi dan terkuat. Prestasi olahraga merupakan buah dari proses latihan panjang, semangat pantang menyerah, asupan nutrisi, dan dukungan teknologi. Bukan diraih dengan jalan pintas seperti doping atau kecurangan. Olahraga merupakan ajang paling kasatmata untuk membangun kebanggaan dan keharuman sebuah bangsa. Semua negara menggunakan olahraga sebagai panggung besar untuk menunjukkan kemajuan yang diraih oleh bangsa itu. Kemegahan Olimpiade Beijing lalu, sungguh mempertunjukan bahwa Cina bukan saja menjadi raksasa ekonomi dunia tapi cukup berhasil dalam pembangunan manusianya.

Oleh karena itu, berbijaklah ketika anak lebih mencintai kegiatan olahraga!****

Penulis,
Mantan guru Penjaskes
SDN Taruna Karya 04 Cibiru – Kota Bandung
Mantan Atlet Kejurda Tajimalela