Sabtu, 18 Desember 2010

KERETA API DARI MASA KE MASA., BKW Pengetahuan, Edisi Oktober 2010


Oleh: Ajeng Kania*)

Angkutan kereta api merupakan solusi mengatasi permasalahan kronis kemacetan di kota besar. Untuk jarak di bawah 2000 km, kereta api di beberapa negara mampu bersaing dengan pesawat terbang dihadapkan pada kesibukan lalu-lintas udara, juga pembangunan bandara semakin ke pinggir kota. Berbeda dengan kereta api, selain bebas macet, penumpang dapat turun langsung di stasiun jantung kota.

Di Indonesia sekarang, kereta api hanya bisa dijumpai di Pulau Jawa dan Sumatera. Bagi yang belum pernah naik kereta api, pasti dibuat penasaran. Pada mulanya kereta api digunakan pemerintah kolonial untuk mengangkut hasil bumi seperti: kina, tembakau, atau teh, dari daerah sumber perkebunan menuju pelabuhan laut. Dengan angkutan kereta api memudahkan pengiriman hasil bumi dijual di pasar Eropa. Perkembangan selanjutnya, digunakan pula untuk mengangkut penumpang. Kereta api cukup serba guna dapat mengangkut dalam jumlah besar. Di masa perjuangan, peran kereta api sangatlah besar. Sejarah mencatat, peran kereta api dalam distribusi logistik untuk keperluan perjuangan dari Ciroyom (Bandung) ke pedalaman Jawa Tengah, mobilisasi pejuang di wilayah Yogyakarta-Magelang-Ambarawa, hingga hijrahnya pemerintahan RI dari Jakarta ke Yogyakarta (1946).

Perkembangan kereta api
Perkembangan teknologi perkereta-apian berkembang pesat setelah mesin uap ditemukan oleh James Watt tahun 1769. Penemuan ini mendorong Nicolas Cugnot membuat kendaraan beroda tiga berbahan bakar uap dikenal orang-orang sebagai kuda besi. Kemudian Richard Trvithick tahun 1809 memperagakan kereta api penumpang yang ditarik lokomotif uap pada suatu jalur di London sebagai awal mula kereta api. Sementara perjalanan kereta api komersial pertama dilakukan, 15 September 1830 menghubungkan Liverpool-Manchester (Inggris) ditarik lokomotif uap buatan George Stephenson (1829). Setelah itu dilakukan penyempurnaan dan penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan lokomotif uap lebih efektif, berdaya besar dan mampu menarik kereta lebih banyak.

Penemuan dinamo listrik oleh Michael Faraday (1831) mengilhami para ahli untuk membuat peralatan listrik dan motor listrik. Motor listrik kemudian digunakan untuk membuat trem listrik sebagai cikal bakal kereta api listrik (KRL). Begitu pun, Rudolf Diesel (1897) menemukan mesin disel berbahan bakar solar, digunakan pula untuk mesin penggerak lokomotif kereta api menjadi lebih bertenaga dan efesien. Perkembangan teknologi berkembang pesat terutama di bidang kelistrikan dan magnet, sehingga dibuatlah kereta api magnet super-cepat. Kereta api super-cepat itu dioperasikan pertama kali di Jepang menandai dibukanya Olimpiade Tokyo (1964) ternyata meraih sukses luar biasa. Dalam waktu 3 tahun kereta api peluru Shinkansen saat itu dapat melayani 100 juta penumpang.

Pembangunan rel di Indonesia
Sejarah kereta api di Indonesia dimulai sejak Jum’at, 17 Juni 1864. Saat itu Gubernur Hindia-Belanda berkuasa, Mr. L.A.J. Baron Sloet van den Beele di desa Kemijen (Semarang) melakukan pencangkulan pertama sebagai simbol pembangunan kereta api di Indonesia. Pembangunan itu dipelopori perusahaan swasta NV. NISM dipimpin Ir. J.P. de Bordes menghubungkan Kemijen-Tanggung sepanjang 25 km. Rel kereta api ini akhirnya dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867. Rel ini kemudian dilanjutkan jalur rel Semarang-Surakarta sepanjang 110 KM pada tanggal 1870.

Keberhasilan ini mendorong investor saat itu membuka jalur rel di kota lain, seperti: Bandung–Batavia (via Cianjur/1884), Bandung–Yogyakarta–Surabaya (1894), Bandung–Batavia (via Purwakarta/1900), Semarang-Cirebon (1914), Semarang–Kedungjati (1871), Batavia–Bitenzorg/Bogor (1873), Surabaya–Pasuruan (1878), Bangil–Malang (1879), Sidoarjo–Mojokerto (1882), Kediri–Blitar–Madiun (1884), Probolinggo–Klakah (1885). Dilanjutkan jalur Lumajang–Jember–Bondowoso hingga Panarukan dan selesai 1897.



Pemerintah kolonial pun membangun jalur rel di luar Pulau Jawa, seperti: Kamal-Kalianget di P. Madura 1901. Pembangunan kereta api dilakukan di Pulau Sumatera, yaitu Ulelee-Aceh (1876). Penemuan cadangan batu bara di Sawahlunto mendorong pemerintah Hindia-Belanda membangun rel di Sumatera Barat (1896). Cikal bakal jaringan rel di Sumatera Utara Medan-Labuhan (1883) sepanjang 17 km. Adapun pembangunan rel di Sumatera Selatan selesai 1927, yaitu Kertapati-Prabumulih sepanjang 78 km. Firma de Groot, salah satu perusahaan kontraktor pemenang tender saat itu berencana mewujudkan jalur rel Makassar-Manado dalam trans-Sulawesi. Akan tetapi meletusnya Perang Dunia I dan peristiwa malaise (krisis moneter) proyek ini gagal, namun sempat terbangun rel Makassar–Takalar sejauh 47 Km di tahun 1922. Di Kalimantan, jalur rel kereta api belum sempat dibangun, karena Perang Dunia II, namun studi pembangunan telah dilaksanakan untuk jalur rel Pontianak – Sambas, Kalimantan Barat (220 Km). Begitu pula studi pembangunan jalur rel kereta api sudah dilakukan di Pulau Bali dan Lombok.

Eksotisme kereta api di Indonesia

Perjalanan kereta api melalui kota, desa, hutan, jembatan, bahkan terowongan. Jembatan kereta api terpanjang melewati dua bukit membentang dari Ciganea (Kab. Purwakarta) hingga Padalarang (Kab. Bandung Barat) yaitu Jembatan Cisomang, Cikubang dan Cibisoro. Dua jembatan disebutkan terakhir berdiri 45-50 meter di atas ngarai. Jembatan Cikubang merupakan jembatan kereta api terpanjang di antara seluruh jembatan di pulau Jawa sepanjang 300 meter. Jembatan Cibisoro menghubungkan Cilame dengan Sasaksaat hanya 290 meter. Kereta api pun merayap menyusuri Jembatan Cisomang menjulang setinggi 100 meter di Darangdan (Kab. Purwakarta) merupakan pemandangan eksotik sangat indah diabadikan. Jembatan lain yang cukup eksotis yakni Jembatan Cirahong di atas kali Citanduy, Ciamis; Jembatan Sakalibel di Banyumas; Jembatan Serayu di Kali Serayu dan jembatan Progo di atas Kali Progo yang memiliki kualitas jembatan amat tinggi.

Ada beberapa terowongan kereta api terkenal di Pulau Jawa. Terowongan Sasaksaat berada di Kampung Cipicung, Desa Sumurbandung Kec. Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Terowongan ini dibangun 1902-1903 sejauh 950 meter. Pada jalur Sukabumi – Bandung, terdapat terowongan Lampegan sepanjang 628 meter dibangun 1882. Di Jawa Tengah, tepatnya di desa Bumiagung, Rowokele (Kebumen) terdapat terowongan Terowongan Ijo sejauh 800 meter dibangun 1886. Akan tetapi, ternyata terowongan Wilhelmina pada jalur Banjar-Pangandaran memegang rekor terowongan kereta api terpanjang di Indonesia yaitu 1.200 meter dibangun 1912 terletak di perbatasan desa Emplak dan Bagolo, Kalipucang - Ciamis. Di sini ada dua terowongan lagi, yakni terowongan Hendrik sepanjang 100 meter dan terowongan Juliana sepanjang 200 meter. Sayang, sejak 1982 jalur kereta api ini ditutup.

Memanjakan penumpang
Di zaman kolonial, perusahaan yang mengelola kereta api didominasi oleh perusahaan swasta. Selain, Staats Spoorwegen (SS) milik pemerintah, ada 11 perusahaan kereta api swasta di Jawa dan satu di Sumatera. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, dibentuklah “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI) pada tanggal 28 September 1945, tahun 1950 DKARI dan SS/VS digabungkan menjadi “Djawatan Kereta Api” (DKA). akhirnya menjadi “Perusahaan Negara Kereta Api” (PNKA) berdasarkan PP No. 22 tahun 1963. Tahun 1971, PNKA berubah menjadi “Perusahaan Jawatan Kereta Api” (PJKA) berdasarkan PP No. 61/1971 tanggal 15 September 1971. Perubahan merupakan proses dinamika tak terelakkan dalam menyesuaikan tuntutan zaman. Berdasarkan PP No. 57 Tahun 1990, tanggal 2 Januari 1991, PJKA berubah lagi menjadi Perusahaan Umum Kereta Api disingkat Perumka. Dengan status sebagai Perum, manajemen dan kinerja perkeretaapian di Indonesia mulai membaik. Dari perusahaan selalu merugi, Perumka bisa menekan kerugian hingga memberi keuntungan. Pada tahun 1998, berdasarkan PP No. 19 Tahun 1998 tanggal 3 Februari 1998, pemerintah menetapkan pengalihan dari Perumka menjadi Perusahaan Persero yakni PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki kantor pusat di di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 1 Bandung 40117. Struktur organisasi PT. Kereta Api (Persero) di tingkat pusat terdapat Board of Director dengan seorang Direktur Utama dan 5 Direktur mengepalai Direktorat. Di tingkat daerah, terdapat 9 Daerah Operasional (Daops) di Jawa dan 3 Divisi Regional (Divre) di Sumatera yang membawahi stasiun-stasiun kereta api dalam wilayah kerjanya.

Adapun Daerah Operasional di Jawa adalah:
1. Daops I Jakarta
2. Daops II Bandung
3. Daops III Cirebon
4. Daops IV Semarang
5. Daops V Purwokerto
6. Daops VI Yogyakarta
7. Daops VII Madiun
8. Daops VIII Surabaya
9. Daops IX Jember

PT. Kereta Api (Persero) memiliki 3 Divisi Regional di Sumatera, yaitu Divre I Sumatera Utara dan NAD, Divre II Sumatera Barat dan Divre III Sumatera Selatan. Di samping itu PT. Kereta Api (Persero) memiliki 3 anak perusahaan, yakni PT. Reska bergerak di bidang Restoran Kereta Api, PT. RaiLink bergerak di bidang konstruksi dan PT. KA Komuter Jabodetabek di bidang angkutan wilayah perkotaan Jakarta dan sekitarnya.

Jika awalnya, perusahaan ini hanya berorientasi bagaimana cara menjalankan kereta api supaya bisa dimanfaatkan sesuai fungsinya sebagai alat transportasi. Kemajuan teknologi, pendidikan, dan kesejahteraan penduduk telah membawa pilihan pelayanan lebih dari itu. Penumpang mulai mempertimbangkan aspek psikologis tidak dapat diukur batasnya, seperti: kepuasan, gengsi dan prestise. PT. KAI merespons dengan jenis layanan mulai kelas ekonomi, kelas bisnis, kelas eksekutif/argo dan kelas wisata dalam memanjakan penumpangnya.

Selamat mencoba! (**/)

Penulis, Ajeng kania, diolah dari berbagai sumber

SD Negeri Cibiru 5 Kota Bandung
*(Materi diambil dari naskah buku pengayaan sayembara pusbuk 2009 karya ajeng kania, dapat hibah perbaikan pusbuk 2010)

Kamis, 16 September 2010

SEMINAR DAN BEDAH BUKU AGP DI KOTA SUKABUMI, "BKW" Juli 2010



Koordinator Wilayah Asosiasi Guru Penulis (AGP) PGRI Jawa Barat Wilayah Bogor (meliputi Kab/kota Bogor, Kab/kota Sukabumi, Kota Depok dan Kab. Cianjur) menyelenggarakan Seminar dan Bedah Buku bertema “Membangun Atmosfer Pembelajaran yang Dinamis dan Sarat Makna” di Gedung Gede-Pangrango Secapa Polri, Kota Sukabumi, Sabtu, 22 Mei 2010. Kegiatan ini menampilkan narasumber utama, Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed (Pakar Pembelajaran, Guru Besar UPI Bandung) dan Dr. Muhammad Ichsan (UNJ Jakarta).

Pada kesempatan itu diluncurkan buku, One Mintes Before Teaching, kaya Anang, S.Pd, (guru SMAN 2 Kota Sukabumi). Dalam pengantarnya, Prof. Dr. H. Didi Suherdi, M.Ed menyatakan bahwa buku tersebut merupakan refleksi dan pemaknaan atas sejumlah pengalaman penting penulis dalam mendidik anak-anak bangsa sangat inspiratif terutama bagi kalangan guru. Sebagai profesional, guru dapat mengambil pengalaman dan mengubahnya menjadi karya tulis, bukan hanya membantu peningkatan kualitas profesionalisme, tetapi juga pengembangan masyarakat intelektual yang gemar membaca dan menulis.

Sementara Tim dari Asosiasi Guru Penulis (AGP-PGRI Jawa Barat) diwakili Drajat, S.Pd (Wakil Ketua) dan Ajeng Kania, S.Pd (Sekretaris Umum) membawakan materi “Membangun Atmosfer Pendidikan Dinamis Melalui Media Massa serta Tips dan Trik Tulisan Menembus Media”. Acara ini sebagai wujud silaturahmi sesama guru penulis dalam upaya menggagas pembentukan asosiasi guru penulis di kota Sukabumi. Selain itu, dilakukan diskusi berupa sharing pengalaman menulis, seperti: mengeksplorasi ide, menulis kreatif, hingga menulis sayembara.

Menurut Ketua Pelaksana, Dra. Iceu Yulianti, M.Si bahwa kegiatan ini sangat penting dalam menyatukan visi dan memotivasi kegiatan menulis bagi guru dan insan pendidikan. Hadir dalam kesempatan itu, Kadisdik yang juga Ketua PGRI Kota Sukabumi, Sanusi Harjadireja, M.Pd dan undangan lainnya. Kegiatan ini dihadiri oleh hampir 300 peserta terdiri dari pendidik, mahasiswa dan siswa sekolah menengah se-Kota Sukabumi. (***/ajeng kania/BKW)

PASANGGIRI BAHASA, SASTRA DAN SENI DAERAH SD/MI se-KECAMATAN CIBIRU KOTA BANDUNG 2010, "BKW" Juli 2010

BERITA DAERAH


Bahasa, Sastra dan Kesenian daerah merupakan investasi jiwa suatu bangsa yang berbudaya dan memiliki nilai sangat tinggi. Hal ini amat baik dalam melatih logika dan retorika berpikir peserta didik. Melalui pembelajaran bahasa, sastra dan seni daerah diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kecakapan dan kearifan dalam menyikapi masa kini dan perubahan di masa depan.

Sebagai wujud aplikasi hasil pembelajaran bahasa, sastra dan kesenian daerah, Panitia Pasanggiri Bahasa, sastra dan Seni Daerah Gugus 27 dan 28 di lingkungan Kecamatan Cibiru Kota Bandung mengadakan ajang seleksi untuk menentukan utusan ke tingkat kota Bandung, Rabu, 2 Juni 2010. Lokasi dipilih pasanggiri ini di Kompleks SD Negeri Cipadung 3, Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung Bandung.

Pasanggiri ini terdiri 7 jenis lomba, yaitu: Puisi (Maca Sajak), Maca Berita (Bewara), Pidato (Biantara), Ngadongeng, Ngarang, Tembang (Pupuh) dan Maca tulis Aksara Sunda. Pasanggiri ini diikuti oleh 336 peserta dari 24 SD/MI yang berada di Kecamatan Cibiru.

Menurut Ketua I, Hj. Amin Chalsumawati, S.Pd, menerangkan bahwa kegiatan pasanggiri ini sangat baik dalam mengembangkan kompetensi siswa terutama dalam ketrampilan bahasa, sastra dan seni. Dengan adanya ajang ini, siswa memperoleh ruang unjuk kebolehan (beraktualisasi) dengan menampilkan bakat dan hasil belajar diperolehnya. Dijelaskannya bahwa dengan kegiatan ini dapat menanamkan kecintaan para siswa terhadap seni dan budaya daerahnya.

Hasil rekapitulasi juara pasanggiri seleksi tingkat kecamatan Cibiru Kota Bandung 2010 ini adalah: (a) Puisi (Maca Sajak): siswa SD Cibiru 3 (putra/pa) dan SD Cipadung 1 (putri/pi); (b) Maca Berita (Bewara): SDN Cibiru 4 (pa dan pi); (c) Pidato (Biantara): SDN Cibiru 1 (pa) dan SDN Cibiru 7 (pi); (d) Ngadongeng: SD Krida Nusantara (pa) dan SDN Cipadung 2 (pi); (e) Ngarang: SDN Cibiru 4 (pa) dan SDN Cibiru 5 (pi); (f) Tembang (Pupuh): SDN Cibiru 4 (pa) dan SDN Cibiru 7 (pi), dan (g) Maca tulis Aksara Sunda: SDN Cibiru 3 (pa dan pi). (***/ajeng kania/BKW)

Selasa, 25 Mei 2010

BERBIJAKLAH, SAAT ANAK LEBIH MENCINTAI OLAHRAGA, "BKW", Edisi Februari 2010


OLEH : AJENG KANIA

Banyak orang tua melarang anaknya menjadi atlet – olahragawan – karena profesi itu tidak menjanjikan hari depan (promise of job). Apakah masih relevankah di saat ini?

Orang tua pasti ngomel manakala anaknya lebih menyenangi kegiatan olahraga ketimbang les matematika? Setiap pagi mengambil sepatu kats, pergi jogging, sore hari balepotan lumpur habis sepakbola. ”Kalau sepakbola terus kapan kamu jadi pinter? Sepakbola bisa memberimu makan?” hardik sang ayah.

memberi ruang beraktualisasi
Paradigma sang ayah di era kecerdasan berganda (multiple-intelligences) ini seharusnya lebih bijak. Pakar kecerdasan berganda Howard Gardner termasuk salah satu ahli yang menolak bahwa kecedasan monolitik (IQ) digunakan sebagai satu-satunya parameter untuk menentukan seseorang cerdas atau tidak. Menurutnya, setidaknya ada tujuh kecerdasan – matematik-logika, linguistik, musik, kinestetik, spasial, dsb - yang dapat membuat seseorang sukses di kemudian hari. Boleh jadi sang anak dalam akademik kurang baik, namun ia memiliki bakat dan talenta di bidang lain untuk berkembang dan berhasil.

Melalui latihan panjang dan kerja keras, bakat alamiah dapat melahirkan sosok sukses dan eksis di bidangnya. Seorang politikus memiliki kecerdasan verbal memukau menjadi orator, namun belum tentu cerdas dalam hitung-berhitung. Seorang sastrawan boleh jadi pandai menyulap kata-kata menjadi kocak, puitis, menusuk atau menggelitik pembaca, namun belum tentu piawai dalam olah musik. Begitu pun anak lebih menyukai olahraga, dibutuhkan motivasi dan bimbingan serta dukungan lingkungan terdekatnya sehingga hobinya berkembang optimal.

Faktor lain adalah ruang beraktualisasi bagi anak. Ketika anak menyenangi olahraga bulutangkis harus ada ruang berlatih. Bisa aktif di unit ekstra-kurikuler atau ikut latihan dengan komunitas penggemar bulutangkis. Bagi orang tua yang mampu dapat mendaftarkan anaknya ke klub bulutangkis sehingga memungkinkan anak mendapat pembinaan dan latihan terprogram. Dengan memiliki program, jadwal latihan, jadwal kompetisi, atau seleksi dapat menjadi alat ukur prestasi sekaligus uji mental bertanding. Dengan jam terbang yang tinggi bukan mustahil bakal menjadi atlet besar.

penghargaan bagi atlet berprestasi
Akan tetapi, stereo negatif "habis manis sepah dibuang" mungkin masih membalut perasaan orang tua kita tentang masa depan seorang atlet. Seorang atlet dipuja ketika berjaya dan ditinggalkan saat prestasinya memudar. Fenomena tanpa kepastian ini berakibat terganggunya konsentrasi saat berlatih maupun bertanding. Pikirannya selalu bergelut urusan perut hari ini, keluarga, kontrakan atau masa depan. Kondisi ini sulit membebaskan dirinya untuk terjun full sebagai atlet sejati.

Itulah kegundahan Menegpora. Menurutnya kini saatnya prestasi atlet dihargai dan dijamin masa depannya. Bagaimana pun mereka telah berjasa mengangkat harkat dan martabat bangsa di panggung terhormat. Hal itu dibuktikan dengan kucuran bonus 1,5 M (satu setengah miliar rupiah) dari pemerintah diraih Markis Kido/Hendra Setiawan sebagai peraih emas Olimpiade Beijing 2008 lalu. Pasangan ganda putra ini pun mengoleksi sejumlah hadiah persembahan organisasi masyarakat, institusi, dan komunitas lainnya.

Taufik Hidayat pernah mencicipi bonus 1 Miliar rupiah saat meraih emas Olimpiade Athena/2004. Taufik telah merasakan manisnya seabreg penghargaan bonus uang, piala, rumah, kendaraan, dan materi lainnya. Penghargaan memadai di bidang olahraga juga dirasakan petinju Chisjon atau pelari Suryo Agung Wibowo. Setiap bertanding Chrisjon dihargai lebih dari 9 digit nilai rupiah. Begitu pun atlet-atlet Porda, PON, SEA Games, dsb selain memperoleh medali juga uang kadeudeuh dari pemerintah atau pemda-nya masing-masing.

Tak bisa dipungkiri, ketika banyak siswa/mahasiswa ketika lulus kuliah mendambakan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan kemampuan akademiknya mereka berjuang menyisihkan pelamar lainnya dalam ujian seleksi sangat ketat. Bagi atlet berprestasi, pemerintah memberi terobosan jalur khusus. Rencananya di tahun 2009 ini pemerintah bakal mengangkat 1000 (seribu) atlet berprestasi sebagai PNS. Mereka bakal ditempatkan sebagai instruktur/pelatih olahraga di berbagai instansi pemerintah di seluruh tanah air. Hemmh, cukup menarik bukan?

membawa harum bangsa
Kini olahraga bukan sekadar hiburan semata, tapi dapat dikemas menjadi tontonan komersial menguntungkan. Gelontoran materi bagi seorang atlet adalah hal lumrah. Layaknya artis, atlet menjadi selebritis buah bibir seantero penjuru negeri bahkan dunia.

Setiap kompetisi, kejuaraan atau perhelatan olahraga multi-even mampu menawarkan sejumlah materi, bonus, popularitas, dan lain-lain. Kondisi merangsang banyak negara antre menjadi tuan rumah, perusahaan berebut menjadi sponsor, perusahaan televisi termotivasi memegang hak siar, dan penonton rela berdesak-desakan membeli tiket.

Esensi kompetisi olahraga adalah mencari yang terbaik, tercepat, tertinggi dan terkuat. Prestasi olahraga merupakan buah dari proses latihan panjang, semangat pantang menyerah, asupan nutrisi, dan dukungan teknologi. Bukan diraih dengan jalan pintas seperti doping atau kecurangan. Olahraga merupakan ajang paling kasatmata untuk membangun kebanggaan dan keharuman sebuah bangsa. Semua negara menggunakan olahraga sebagai panggung besar untuk menunjukkan kemajuan yang diraih oleh bangsa itu. Kemegahan Olimpiade Beijing lalu, sungguh mempertunjukan bahwa Cina bukan saja menjadi raksasa ekonomi dunia tapi cukup berhasil dalam pembangunan manusianya.

Oleh karena itu, berbijaklah ketika anak lebih mencintai kegiatan olahraga!****

Penulis,
Mantan guru Penjaskes
SDN Taruna Karya 04 Cibiru – Kota Bandung
Mantan Atlet Kejurda Tajimalela